Tampilkan postingan dengan label Leadership. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Leadership. Tampilkan semua postingan

Apa Itu Tanggungjawab dan Peran Supervisor

Kedudukan Supervisor
Dalam struktur organisasi yang berlaku umum, jenjang hierarki supervisor berada di bawah manajer madya dan di atas karyawan pelaksana (staf). Berdasarkan bagan organisasi ini secara sederhana dapat dijelaskan masing-masing tugas dan kewajibannya sebagai berikut:

Eksekutif (direktur utama, para direktur, vice president) mempunyai tugas utama sebagai perancang sekaligus menentukan arah perusahaan. Para eksekutif ini bermain pada ranah strategi dan rencana perusahaan.

Manajer mempunyai tanggung jawab sebagai penerjemah strategi dan visi yang ditetapkan para eksekutif. Mereka bertugas menterjemahkan strategi menjadi program-program harian, mingguan atau bulanan seperti yang ditetapkan eksekutif. Para manajer dalam menerjemahkan strategi perusahaan ini langsung berhubungan dengan para supervisor. Mereka mempunyai kewajiban untuk mengarahkan, mengendalikan, mengevaluasi hingga memberi motivasi supervisor agar semua rencana dapat dijalankan.

Menjadi Pemimpin Yang Hebat

Dwight Eisenhower, Presiden Amerika Serikat ke-34 pernah berujar, "Kepemimpinan adalah seni untuk membuat orang lain melakukan sesuatu yang Anda inginkan, dan membuatnya merasa ia ingin melakukan hal itu tanpa keterpaksaan."

Menurut Toddi Gutner, penulis di The Wall Street Journal, kata-kata yang terucap dari Eisenhower tadi akan sangat bermakna bagi setiap pemilik bisnis kecil dan menengah. Kata-kata tersebut berbeda dari ujar yang mengatakan, "Jika Anda ingin sesuatu berjalan dengan baik, lakukan sendiri." Menurut Toddi, kata-kata tersebut akan membuat pemilik perusahaan kecil dan menengah dalam masalah.

Masalah untuk mendelegasikan tugas adalah salah satu kesalahan manajemen dan kepemimpinan yang paling sering dilakukan oleh pemimpin perusahaan kecil dan menengah. Ketika kesalahan ini terjadi, mungkinkah diperbaiki? Berikut adalah beberapa pendapat para ahli mengenai opini dan cara pandang pemimpin perusahaan yang bisa membuat mereka dalam masalah.

Gaya Kepemimpinan Honda


Gaya kepemimpinan Soichiro Honda di masa awal berdirinya Honda cenderung keras dan otoriter. Saya tidak akan mengatakan bahwa gaya kepemimpinan otoriter ini jelek tanpa melihat situasi yang terjadi. Honda Motor Company waktu itu adalah perusahaan kecil yang harus berjuang mati-matian supaya dapat bertahan hidup. Malangnya, Soichiro mempunyai prinsip “Terbaik di Dunia” sehingga tidak ada kata cukup dengan hanya bisa bertahan. Dia dan mereka harus menjadi nomer satu. Tidak ada nomer dua...tiga...dan empat....Kondisi saat inilah yang menyebabkan dirinya bertindak keras terhadap karyawannya. Malahan, kadang-kadang bisa dibilang kerterlaluan ! Tetapi apa yang anda harapkan dari seorang pemimpin berusia 42 tahun yang memiliki tujuan hidup begitu besar ? Menjadikan Honda sebagai pabrikan otomotif terbesar di dunia...mengalahkan Toyota dan General Motor ? Padahal waktu itu Honda adalah perusahaan rumah tangga dengan karyawan kurang dari 100 orang. 

Saya rasa semua faktor inilah yang menyebabkan gaya kepemimpinan Soichiro cenderung keras dan otoriter. Selain diburu dengan usia...dia juga mempunyai karyawan – karyawan yang harus digaji. Kabar baiknya...generasi pertama yang langsung dididik oleh pendiri Honda ini banyak diincar oleh perusahaan otomotif lainnya karena mereka tangguh dan cerdas. Siapa bilang gaya kepempinan otoriter itu jelek ? 

Apa itu HORENSO ??

HORENSO adalah suatu akronim dari bahasa Jepang yang dibentuk dari tiga kata, yaitu HOUKOKU, RENRAKU dan SOUDAN. Dalam bahasa Inggris, kata-kata tersebut diterjemahkan menjadi Report, Contact/Information, dan Consult. Jadi dalam bahasa Indonesia bisa diartikan Laporan, Informasi dan Konsultasi.

Horenso diciptakan dan dipergunakan pertama kali di lingkungan pabrik-pabrik di Jepang. Tujuannya adalah untuk menciptakan lingkungan kerja di mana segala informasi tersampaikan dengan cepat dan benar, serta setiap kemajuan suatu aktivitas bisa diketahui oleh banyak orang karena adanya laporan yang intens. Sampai saat ini hampir seluruh pabrik Jepang masih menerapkan prinsip tsb, termasuk di Indonesia.

Latar belakang adanya Horenso adalah bahwa berdasarkan hukum Heinrich, di dalam satu kecelakaan atau problem, di belakangnya ada 29 kecelakaan kecil yang terjadi atau mengikuti. Dan di belakang itu ada 300 sesuatu yang menyebabkan atau turut menyumbang terjadinya kecelakaan. Sesuatu itu biasanya adalah human error atau kesalahan manusia. Penyebab human error ada 2, yaitu lupa dan tidak mengerti atau salah mengerti. Untuk mengatasinya diperlukan suatu pola komunikasi yang intensif, sehingga lahirlah Horenso.

Pemimpin Efektif Seperti Elang

Belajar Sukses dari Burung Elang - Kompasiana.com 
 
Di dunia ini banyak pemimpin, banyak juga yang menyebut dirinya seorang pemimpin. Tetapi menurut Anand Pillai seorang Chief Learning Officer Reliance dari India, selama 28 tahun pengalamannya dalam studi kepemimpinan, hanya sebagian dari pemimpin itu benar-benar efektif. Namun ada juga orang-orang yang benar-benar efektif menyelesaikan pekerjaan walaupun bukan seorang leader. Lalu bagaimana ciri-ciri seorang pemimpin yang efektif itu.

Banyak pemimpin yang tidak get thing done. Malah ada orang-orang lain yang sangat efektif yang bukan seorang leader. Karena itu lah, Leadership itu bukan posisi atau jabatan tetapi adalah lebih cenderung ke sebuah Tindakan. Ada beberapa model kepeminpinan efektif yang kemudian dapat disimpulkan bahwa seorang pemimpin efektif itu memiliki kualitas seperti burung Elang. Adapun Kualitas itu adalah sebagai berikut :

- Gigih - Melihat matahari dengan Mata

- Visi -
Lihat target mil jauhnya

- Ulet -
Lalat melalui badai

Bos Efektif itu, Seperti Apa?

Menjadi Bos yang efektif bukanlah pekerjaan yang mudah karena ada jurang yang lebar antara pekerjaan manajemen dan pekerjaan sebagai individual performer. Awalnya kita mengira pekerjaan sebagai manajer hanya perpanjangan dari pekerjaan individual contributor sebelumnya. Namun perjalanan waktu membuktikan sebaliknya, tugas sebagai seorang manajer sangat berbeda dari tugas seorang contributor individual. Manajer harus berfikir secara berbeda dari level sebelumnya 

Menjadi Manajer yang efektif membutuhkan pengetahuan dan keahlian yang baru serta perubahan personal. Mereka harus mengembangkan nilai baru, kesadaran diri lebih mendalam, kematangan emosi, serta kemampuan memakai wise judgement. Menjadi manajer yang efektif berarti berada dalam jaringan tingkat harapan yang berbeda antara anak buah, supervisor, sesama manajer dan konsumen. Dengan demikian, bukan mustahil menjadi manajer merupakan perjalanan yang menyakitkan dan sulit. Banyak yang tidak pernah menyelesaikan perjalanan tersebut atau meyelesaikan tetapi hanya melaluinya dengan menjadi Bos yang mengerikan.

Tugas seorang Bos dapat dibagi menjadi tiga kategori : Mengelola Diri Sendiri (manage yourself), Mengelola Jaringan (manage a network) dan Mengelola Tim (manage a team). Dalam hal mengelola diri sendiri, memiliki hubungan yang benar dengan orang-orang merupakan dasar perjalanan sebagai manajer. Walau demikian, patut dicatat bahwa memiliki hubungan yang benar tidak akan menjamin sukses, tapi tidak memilikinya pasti akan menyebabkan kegagalan. Manajemen dimulai dengan siapa diri kita dan bagaimana orang-orang mem-percieve kita, kesalahan paling mendasar manajemen adalah menganggap kekuatan (otoritas) sebagai alat untuk memerintah orang lain mengerjakan apa yang kita mau. Kesalahan lainnya, mendasarkan hubungan kerja atas dasar persahabatan atau pertemanan. Hubungan yang benar adalah berdasarkan komptensi dan karakter.

6 R Yang Dimiliki Pemimpin Efektif

Leadership itu suatu seni. Dan karena ia suatu seni maka siapapun bisa memperlajarinya, sebagai mana kita bisa mempelajari seni-seni yang lain seperti seni lukis, seni peran atau seni suara. Walaupun bisa dipelajari, sebagaimana seni yang lain kepemimpinan itu tidak mudah dikuasai. Diperlukan waktu bertahun-tahun dan proses yang cukup panjang untuk seseorang untuk menjadi pemimpin yang baik.

Pertanyaanya bagaimanakah lagkah-langkah yang diperlukan agar kita bisa menjadi seorang pemimpin yang efektif. Efektif dalam konteks ini adalah dapat membawa hasil atau berhasil guna. Sekurangnya ada 6 langkah untuk menuju sebagai pemimpin yang efektif.

1. Recognize (mengakui)
Mengakui bahwa Leadership itu sebagai sebuah seni yang dapat terus dikembangkan dan dipertajam. Dengan mengakui hal ini maka seorang pemimpin bisa terus belajar entah dari mentor maupun dari buku-buku untuk terus meningkatkan kompetensi dalam memimpin. Dengan pengakuan ini seorang leader sekaligus akan menjadi learner (pembelajar). Dan proses belajar itu berlangsung seumur hidup, dari buaian hingga liang kubur.

Berbicara adalah Amunisi Manusia

5 Tips agar Berani Berbicara di Depan Umum Halaman 1 - Kompasiana.com 
 
Berbicara merupakan kemampuan dasar yang dimiliki manusia sejak lahir, tugas kita adalah memanfaatkan kemampuan tersebut menjadi sebuah seni yang mampu mengubah dunia sebagai mana yang dikatakan oleh Nelson Mandela "The Most Powerful Weapon is not Violence but it si Talking to People". Senjata terkuat bukanlah kekerasan melainkan bagaimana kita berbicara kepada orang lain.

Selain itu berbicara merupakan kemampuan interpesonal dasar yang artinya adalah kemampuan untuk mengenali, merespon secara layak perasaan, sikap dan perilaku, motivasi serta keinginan orang lain. Bagaimana seorang mampu membangun hubungan harmonis dengan memahami dan merespon manusia atau orang lain  merupakan bagian dari kemampuan interpesonal.

Untuk membangun hubungan harmonis dengan orang lain, seseorang harus menguasai kemampuan dan ketrampilan dalam mengenali dirinya sendiri terlebih dahulu, kemudian baru ketrampilan dalam mengenali orang lain, ketrampilan untuk mengekpresikan diri secara jelas, cara merespon, cara menyampaikan pesan dan maksud, cara bernegosiasi dan menyelesaikan konflik, cara berperan dalam tim dan masih banyak lagi.

Manusialah Penggerak Perubahan Itu Sendiri

Pegiat: Guru Penggerak solusi perubahan pendidikan di Indonesia - ANTARA  News 
 
Perubahan yang begitu cepat akibat dari semakin cerdasnya manusia, semakin gilanya teknologi, menyebabkan cepat usangnya ketrampilan bekerja. Sales Manager yang 10 tahun lalu berprestasi bagus sekarang sudah tampak seperti macan ompong.

Teknik-teknik kesuksesannya sudah tidak bisa digunakan lagi. Perusahaan yang sudah mabuk kemenangan dan keuntungan juga bisa kalang kabut menyiapkan kompetensi baru karena keharusan mengatispasi Golden Eggs yang baru. Era industrial ketika ketrampilan bisa dipakai berulang-ulang sudah lewat. Sekarang pemimpin perlu menyiapkan pembuat perubahan. "Every Individual Need To Be A Change Maker".

Bila seorang individu tidak gemar berubah, ia jelas menjadi beban teman-temannya yang ingin berubah. Tim bukan sekedar tim, tetapi perlu bersinergi. Inilah Format Organisasi Era Sekarang. Dengan kondisi ini, jelas fokus kita harus lebih banyak penekanan bobot manusia, sumber daya yang paling hebat di muka bumi. Kita mesti angkat topi dengan perusahaan besar yang menomersatukan karakter dengan keyakinan ketrampilan dapat diajarkan meski sadar bahwa pembentukan karakter membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Tidak Semua Leader Punya Keahlian "Coaching"

Gue Nggak Mau Coaching!" - Alterra 
 
Dalam suatu pelatihan coaching, banyak peserta yang celingak-celinguk dan berpikir keras, saat saya bertanya: “Siapa atasan yang Anda anggap  sebagai "coach" dan berkontribusi pada keberhasilan Anda?”.

Ternyata, bagi mereka tidak mudah menemukan satu tokoh yang benar-benar berarti dalam “membuat” diri mereka sukses. Para hadirin ini memang punya atasan yang melakukan bimbingan, namun, mungkin mereka dirasa kurang memberi nilai tambah secara signifikan, sehingga belum “sah” diberi label “coach”.

Sebaliknya, seorang teman yang sukses di kariernya, sering sekali menyebutkan dosen pembimbing skripsinya saat kuliah dulu sebagai "coach" yang andal. Padahal, masa bimbingan ketika itu hanyalah 6 bulan. “Dia memberi saya beberapa guidelines yang tidak boleh dilanggar, serta langkah-langkah yang perlu dijalankan. Demikian jelasnya, sehingga sampai sekarang pun saya tidak berani menyalahi aturan tersebut”, katanya. Kita bisa lihat betapa “coach” yang berhasil akan diingat seumur hidup oleh “coachee”-nya.

Atasan Harus Bisa Coaching Leadership

Pemimpin seperti apa yang Anda kagumi? Kita banyak mengagumi pemimpin karena otaknya yang brilian, keahliannya berstrategi, pengambilan keputusan yang tepat, keberanian mengambil risiko, atau kemampuan membawa perusahaan tumbuh besar. Kita bisa melihat bahwa terkadang kesuksesan tidak berkorelasi dengan sikap pimpinan terhadap bawahannya.

Steve Jobs, misalnya, melegenda lebih karena kekuatan inovasi, bukan kekuatan hubungannya dengan manusia. Ada bawahan yang bisa betah bertahun-tahun dalam organisasi yang dipimpin atasan yang tidak simpatik, atau bahkan jelas-jelas suka mengadu domba.

Keberhasilan mencetak laba dan melipatgandakan aset perusahaan memang masih menjadi indikator utama kehebatan seorang pimpinan, bahkan dijadikan "model" manajemen yang dianggap ideal. Sekarang, mari kita bayangkan bila di bawah para pemimpin keren ini ternyata tidak tumbuh calon pemimpin masa depan untuk menggantikannya. Tidakkah kita dengan mudah melihat perusahaan segera akan mengalami krisis dan sulit mempertahankan pertumbuhan usahanya? Dalam situasi ini, masihkah kita menilai para pemimpin ini sebagai pemimpin yang efektif?

Melatih Pola Pikir Seorang Champion

Membentuk dan melatih pola pikir yang benar adalah faktor utama untuk mencapai kesuksesan yang Anda inginkan.

Pertanyaan Selanjutnya Adalah, Bagaimana Cara-nya Membentuk Dan Melatih Pola Pikir kita?

Banyak kok caranya…, tinggal Anda sendiri yang memutuskan, mau atau tidak-nya.

Ada ‘pepatah‘ yang mengatakan bahwa “Anda adalah apa yang Anda makan” (tentu saja dalam hal kolerasi-nya akan pentingnya makanan sehat). Hal yang sama bisa kita terapkan untuk mengetahui kemungkinan sukses Anda (apa yang dikonsumsi oleh pikiran Anda?).

Jadi, “makanan” apa yang menjadikan Anda seperti Anda sekarang ini?

Dengan orang-orang seperti apa Anda bergaul sehari-hari? Apakah mereka orang-orang yang bersemangat, berbahagia, positif? Atau mereka adalah orang-orang yang suka mengeluh, apatis, dan merenungi nasib mereka sendiri?

Apa yang Anda tonton di rumah?

Sukses Itu Bukan Tujuan, Sukses Itu Kebiasaan

7 Kebiasaan Orang Sukses yang Harus Kamu Lakukan | KASKUS 

 

Siapapun kita pasti menginginkan sukses. Tapi apa itu arti kesuksesan dan apa bentuk kongkritnya, tidak sedikit orang kesulitan mendefinisikannya. Apalagi mencapainya. Hal itu tak lain karena kita hidup di lingkungan yang telah memberikan pemaknaan yang begitu kabur, menjalani hidup tanpa terencana hingga suatu saat di hari tua kita sadar bahwa semua telah berlalu.

Banyak dari kita telah terperangkap pada mindset (cara berpikir) yang telah demikian tertanam dalam benak kita, sehingga tak jarang kita menjadi terkoptasi dalam realitas yang parsial. Bagaikan katak yang puas hidup dalam tempurung. Bagaimana mindset demikian dapat terbentuk dalam diri mereka, hal itu bisa dijelaskan dengan Fase psikoprogram dalam hidup kita sebagai berikut:

Pertama, masa tanam. Fase ini terjadi saat kita berumur 0 hingga 7 tahun. Pada masa ini kita memperoleh pengetahuan-pengetahuan dasar tentang diri dan sekitar seperti berjalan, berbicara, menirukan bahasa yang didengar.

Kedua, periode model. Pada periode ini biasanya kita akan menciptakan model-model tokoh tertentu yang akan kita tiru. Makanya wajar jika anak pada usia ini akan menirukan hero yang mereka kagumi, atau orang yang mereka anggap bisa dijadikan model ideal. Periode ini terjadi pada masa 7\14 tahun.

Memprogram Pikiran Bawah Sadar

Pikiran Bawah Sadar dan Cara Kerjanya - MIKAMONEY 
 
Otak manusia adalah komputer terbaik yang pernah ada. Semakin banyak digunakan maka kinerja otak akan semakin baik. Sayangnya manusia hanya bisa menggunakan sekitar 4% dari kemampuan otaknya. Sebagian orang yang bisa menggunakan hingga 5% dapat dikatakan jenius. Dari seluruh bagian kapasitas otak, 88% – nya adalah pikiran bawah sadar dan 12% – nya adalah pikiran sadar.

Pikiran bawah sadar meliputi; kepribadian, emosi, insting,  naluri, citra diri, ingatan jangka panjang, dan kebiasaan. Pikiran bawah sadar ini sangat kuat pengaruhnya dalam menentukan tindakan yang akan kita lakukan. Orang boros, walaupun memenangkan lotere dan menjadi kaya raya pasti akan segera menghabiskan kekayaannya. Itu karena mindset mereka tetap sebagai orang yang boros walaupun nasib mereka berubah. Hal ini juga yang membedakan atlet bermental juara dan atlet biasa. Atlet bermental juara secara naluriah tahu apa yang dibutuhkan untuk menjadi pemenang.

Kabar baiknya kebiasaan dapat kita bentuk menjadi apa yang kita inginkan. Kabar buruknya kadang membentuk kebiasaan sangat susah dan membutuhkan waktu yang lama. Menurut penelitian, rata-rata orang yang melakukan pekerjaan baru secara rutin selama 3 bulan akan menjadi sebuah kebiasaan. Tetapi juga tergantung besarnya minat dan keinginan kita untuk membentuk kebiasaan tersebut.

Maksimalkan Potensi Diri Anda Dengan Self Talk

Manfaat Positive Self-Talk dan Cara Melakukannya - Alodokter 

 Apa yang kita lakukan ketika sedang berkendara sendirian, sesaat sebelum terlelap, atau ketika sedang menunggu antrian? Semua orang melakukannya, Self-talk. Berbicara dengan diri sendiri, berbincang dan bermain dengan pikiran kita. Setiap hari kita melakukannya, orang banyak menyebutnya sebagai lamunan, melamun, atau daydreaming. 

Ketika kita sedang tidak dalam satu aktivitas, otak cenderung melakukan self talk. Hal ini sudah menjadi kebutuhan dan kutukan bagi otak. Otak didesain untuk belajar dan berpikir. Maka ketika tidak ada aktivitas yang membutuhkan konsentrasi, maka otak melakukan self talk. Berbicara dengan bagian lain dari otak,

entah itu memori (ingatan ) ataupun mimpi dan imajinasi.

Imajinasi, merupakan self talk yang digunakan oleh motivator dalam membentuk sukses.  Dengan imajinasi, otak akan merumuskan jalur-jalur neuron yang baru dan memperkuatnya. Demikian pula dengan afirmasi positif. Kalimat positif beserta gerakan tubuh, merupakan bagian dasar dari self talk. Tingkat tertinggi dari afirmasi positif adalah melakukan  self talk dengan semua kalimat positif. Otak diajak berbincang bahwa diri ini adalah sehat, terbaik, dan penuh potensi. Semuanya hanya dilakukan dalam otak.

Bentuk Self Image Untuk Kebiasaan Sukses Anda

Self-Concept in Psychology: Definition, Development, Theories 
 
Apa jawaban jujur Anda saat saya tanya, “Anda ini orangnya seperti apa?”

Perhatikan Self Talk Anda…..

“Saya adalah pemenang!”

“Saya adalah orang yang percaya diri dan siap menerima tantangan!”

ataukah….

“Saya ini bodoh, tidak bisa diandalkan…..”

“Saya tidak bisa apa-apa, setiap hal yang saya kerjakan tidak pernah berhasil dengan baik…..”

Perhatikan apa yang Anda sampaikan kepada diri Anda, dalam pikiran Anda, dalam hati Anda….

itulah Self Image Anda…..

Cara Pemimpin Meningkatkan Kualitas Pengembangan Anak Buah

Pengembangan karyawan selayak dilakukan oleh para atasan, karena ini dapat meningkatkan kompetensi manajerial maupun teknik dari bawahan. Karena seorang atasan itu pada dasarnya bekerja berdasarkan hasil kerja bawahannya. Maka kinerja bawahan menentukan bagaimana kinerja bawahan. Seorang atasan yang baik tidak akan lepas tangan soal hal ini. Berikut kami sampaikan 7 cara yang dapat Anda jadikan acuan dalam mempersiapkan karyawan atau anak buah  Anda agar dapat berkembang dengan baik dan sukses menapak ke  level berikutnya :

1.   Kenali karyawan Anda
Sebagai pemimpin sudah seharusnya Anda mengenali secara spesifik perilaku dari masing masing karyawan Anda. Lakukan coaching dan counseling secara berkala,  kenali apa yang menjadi tujuan mereka,  samakan visi karyawan dengan visi Anda  agar mereka dapat lebih mudah untuk diarahkan. Berikan pengetahuan dan keterampilan Anda  dan dorong karyawan untuk bertanggung jawab terhadap pekerjaan mereka serta motivasi mereka untuk berjuang keras mencapai hasil yang ditentukan demi keunggulan pribadi. Selalu diskusikan sikap, keterampilan  dan pengetahuan yang menjadi modal dasar untuk sukses didalam pekerjaan. Sampaikan beberapa kesempatan untuk peningkatan tanggung jawab dan kemajuan karir serta beri  pengakuan secara jujur ​​untuk prestasi kerja yang telah mereka lakukan dan jangan lupa untuk mengingatkan mereka agar terus menerus belajar menjadi lebih baik.

Memimpin Dalam Krisis

"Tempat saya yang terbaik adalah di tengah-tengah anak buah;
Saya akan meneruskan perjuangan…!"
(Jenderal Soedirman)

Dalam memandu beberapa sesi pelatihan akahir-akhir ini, baik topik mengenai hubungan industrial, kepemimpinan, GCG bahkan workshop teknis seperti kompensasi, manpower planning dan lainya, selalu terselip pertanyaan, sulit situasi perusahaan pada umumnya di tenggah marak berbagai aksi mogok dan tuntutan kenaiakan upah pokok, belum lagi rencana kenaiakan tarif listrik yang sudah di depan mata serta masih belum optimalnya infrastruktur.

Saat ini, kita semakin merasakan kehidupan yang semakin sulit. Gelombang krisis ekonomi global kini telah menghancurkan sendi-sendi perekonomian negara di dunia secara perlahan. Industri-industri keuangan dan manufaktur silih berganti bertumbangan, hingga menyebabkan gelombang PHK tidak terhindarkan. Untuk Indonesia pada tahun 2012 ini, diprediksi setidaknya akan ada 15.000 tenaga kerja bakal mengalami nasib mengganggur sementara, karena akan dirumahkan oleh perusahaan tempat mereka bekerja. Situasi ini, sungguh mengingatkan "kita" pada situasi yang sulit beberapa tahun lalu. Dalam memori "kita" masih terekam kuat bagaimana sulitnya, situasi kala era transisi kemerdekaan 1950-an sampai dengan 1960-an. Krisis ekonomi, kelaparan, pengangguran menyerang daya tahan bangsa Indonesia waktu itu, tetapi uniknya, tokoh sebesar Soekarno, sehebat Bung Hatta tetap keluar sebagai "hero". Ini bermakna, tanpa seni kepemimpinan yang jitu dalam krisis, maka mustahil "mereka" dipuja, dan menjadi pahlawan bagi "kita" semua.